TAKSONOMI BLOOM DALAM MENETAPKAN TUJUAN PELATIHAN

TRAINING NEED ANALYSIS
Oktober 1, 2018
LINGKUNGAN KERJA YANG PRODUKTIF BAGI KARYAWAN
Oktober 8, 2018

Pelatihan adalah suatu upaya yang sistematis untuk meningkatkan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap kerja (behaviors) pekerja melalui proses belajar, agar para pekerja dapat lebih optimal dalam menjalankan fungsi dan tugas jabatannya sehari-hari. Sebelum melaksanakan pelatihan kita harus menetapkan tujuan pelatihan tersebut dengan menggunakan Taksonomi Bloom yang diciptakan oleh Benjamin S Bloom pada tahun 1956.

Taksonomi Bloom adalah struktur hierarki yang mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tentunya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu. Dalam kerangka konsep ini, tujuan pelatihan ini oleh Bloom dibagi menjadi tiga domain/ranah kemampuan intelektual (intellectual behaviors) yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.

  1. Ranah Kognitif

    Tujuan kognitif atau ranah kognitif adalah segala upaya yang mencakup kegiatan mental (otak). Dalam ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir antara lain:

    1. Pengetahuan (Knowledge)

      Kemampuan mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Contoh: menyatakan kebijakan.

    1. Pemahaman (Comprehension)

      Kemampuan memahami materi tertentu. Contoh: menuliskan kembali atau merangkum materi pelatihan.

    1. Penerapan (Application)

      Kemampuan untuk menerapkan informasi/konsep dalam praktek/situasi nyata yang baru. Contoh: menggunakan pedoman/aturan dalam menghitung gaji pegawai.

    1. Analisa (Analysis)

      Kemampuan menguraikan suatu materi menjadi bagian-bagiannya. Contoh: menganalisa penyebab meningkatnya Harga pokok penjualan dalam laporan keuangan.

    1. Sintesis (Synthesis)

      Kemampuan untuk memproduksi. Contoh: Menyusun kurikulum pelatihan dengan mengintegrasikan pendapat dan materi dari beberapa sumber.

    1. Evaluasi (Evaluation)

      Kemampuan menilai ‘manfaat’ suatu benda/hal untuk tujuan tertentu berdasarkan kriteria yang jelas. Contoh: membandingkan hasil ujian peserta pelatihan dengan kunci jawaban.

  1. Ranah Afektif

    Ranah afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai, penghargaan, semangat, minat, motivasi, dan sikap. Ranah Afektif dibagi dalam lima kategori yaitu:

    1. Penerimaan (Receiving)

      Kemampuan memperhatikan/menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap orang lain. Contoh: mendengar pendapat orang lain, mengingat nama seseorang.

    1. Responsive (Responding)

      Kemampuan berpartisipasi aktif dalam pelatihan dan selalu termotivasi untuk segera bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Contoh: berpartisipasi dalam diskusi kelas.

    1. Nilai yang dianut (Value)

      Kemampuan menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan mana yang baik dan kurang baik terhadap suatu kejadian/obyek yang diekspresikan dalam perilaku. Contoh: mengusulkan kegiatan Corporate Social Responsibility sesuai nilai yang berlaku dan komitmen perusahaan.

    1. Organisasi (Organization)

      Kemampuan membentuk sistem nilai dan budaya organisasi dengan mengharmonisasikan perbedaan nilai. Contoh: menyepakati dan mentaati etika profesi, mengakui perlunya keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.

    1. Karakterisasi (Characterization)

      Mengacu kepada karakter dan daya hidup seseorang. Kemampuan memperbaiki hubungan intrapersonal, interpersonal dan sosial. Contoh: menunjukkan rasa percaya diri ketika bekerja sendiri, kooperatif dalam aktivitas kelompok.

  1. Ranah Psikomotorik

    Ranah psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Ketrampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya. Perkembangan tersebut dapat diukur sudut kecepatan, ketepatan, jarak, cara/teknik pelaksanaan. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik mulai dari tingkat yang sederhana hingga tingkat yang rumit yaitu: persepsi, kesiapan, respon terpimpin, mekanisme, respon tampak yang kompleks, penyesuaian dan penciptaan.

Dengan menggunakan Taksonomi Bloom untuk menetapkan tujuan pelatihan, maka pimpinan dan jajaran manajemen dapat memberikan pelatihan yang tepat untuk karyawan, sekaligus mampu menghasilkan output dari pelatihan yang berkualitas untuk kemajuan perusahaan.