OKR: JALUR BEBAS DARI MICROMANAGING

OKR: EKSPRESI AGILE ORGANIZATION
Februari 2, 2021
OKR: LANGKAH AWAL MENUJU INOVASI
Februari 8, 2021

Salah satu faktor utama yang dapat memperburuk kesehatan mental karyawan adalah kontrol pekerjaan (job control). Penelitian yang dilakukan oleh McKinsey tahun 2018 menyatakan bahwa kontrol kerja yang tinggi memiliki efek buruk terhadap kesehatan fisik dan bahkan dapat membebani kesehatan mental karyawan. Terlalu mengontrol pekerjaan hingga mengambil kebebasan, bahkan peran karyawan untuk bekerja dan berinovasi adalah micromanaging.

Micromanaging dapat membuat kinerja karyawan menjadi buruk karena prosedur yang melelahkan. Hal itu akan berdampak pada produktivitas karyawan yang menurun, hilangnya rasa percaya terhadap pimpinan, mengurangi inovasi, dan juga memperburuk kerja tim. Micromanaging juga memberikan efek negatif pada pemimpin karena akan membelokkan fokus pemimpin dari hal-hal yang lebih krusial, misalnya merencanakan pengembangan perusahaan di masa depan. Pada akhirnya, itu semua akan berujung pada penurunan kualitas kinerja, memperburuk lingkungan kerja, dan tingginya turnover karyawan.

Sebaliknya, jika masalah micromanaging ini diatasi, maka akan membawa perusahaan pada kesuksesan. Hal itu dapat terjadi apabila karyawan diberi kebebasan untuk bekerja dan berinovasi sehingga menumbuhkan rasa percaya antara pemimpin dan karyawan, lingkungan kerja menjadi lebih sehat, dan bahkan membuka kesempatan terhadap munculnya inovasi baru. Salah satu perusahaan yang berhasil menghadapi masalah ini dengan baik adalah Spotify. Layanan streaming musik ini membebaskan karyawannya untuk berinovasi, bahkan tidak harus melaporkan hasil keputusan tim kepada atasan.

Salah satu sarana yang dapat mengurangi praktik micromanaging dalam perusahaan adalah dengan menggunakan OKR. Objective and Key Results (OKR) menyediakan semua perangkat manajemen yang berguna tanpa perlu adanya kontrol total manajer atau pimpinan. Progres OKR dilacak setiap minggu melalui rapat mingguan dan memungkinkan tim untuk fokus pada Key Result dan bagaimana mencapainya.

Melalui OKR, kita dapat melacak kinerja karyawan dan di saat yang sama juga memberikan kebebasan pada karyawan untuk bekerja sesuai dengan gaya mereka masing-masing. Manajer dapat melacak progres karyawan dengan melihat hasilnya melalui rapat atau pertemuan, tanpa mencampuri hal-hal detail yang dapat diselesaikan sendiri oleh karyawan. Itu disebabkan OKR memiliki Key Result yang dapat diukur dan KR itu sendiri berupa hasil, bukan program atau aktivitas.

Melalui OKR, karyawan diberi kebebasan untuk berinovasi dan akhirnya mengembangkan kemampuan mereka, baik secara pribadi maupun dalam tim.  Dengan adanya kebebasan tersebut, pemimpin akan mendapatkan talenta-talenta baru yang dapat diberdayakan untuk keberlanjutan perusahaan. Seperti kata George Patton, ”Jangan pernah memberi tahu orang bagaimana melakukan sesuatu. Beri tahu mereka apa yang harus dilakukan dan mereka akan mengejutkan Anda dengan kecerdikan mereka.”

 

Sumber:
https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/the-organization-blog/decision-making-how-leaders-can-get-out-of-the-way
https://www.mckinsey.com/business-functions/organization/our-insights/the-overlooked-essentials-of-employee-well-being
https://www.forbes.com/sites/forbescoachescouncil/2017/05/19/micromanaging-heres-how-and-why-you-should-stop/?sh=426a44d47518
https://corvisio.com/micromanagement/
https://www.geckoboard.com/blog/how-to-stop-micromanaging-and-give-your-team-autonomy/