MENJADI MANAJER ALAMI

KEPUTUSAN HIDUP ATAU MATI
Januari 16, 2020
MENJADI SEORANG PEMIMPIN
Januari 23, 2020

“Yang dilakukan seorang manajer bisa dianalisis secara sistematis, yang harus bisa dilakukan seorang manajer bisa dipelajari. Namun, ada satu sifat yang tak bisa dipelajari, satu kualifikasi yang tak bisa diraih, tetapi harus selalu ada dalam dirinya. Bukan kepandaian, tetapi kepribadian.” – Peter Drucker

Manajer alami adalah istilah Peter Drucker untuk orang – orang berbakat yang dipandang “terlahir sebagai manajer”. Para manajer alami ini menetapkan prioritas dengan benar, menginspirasi orang lain, dan tahu bagaimana mengambil keputusan yang penting. Salah satu karakteristik manajer alami adalah ia memiliki kepercayaan tinggi terhadap kemampuannya untuk membuat berbagai keputusan yang sulit. Para manajer alami ini tidak mengatur hal remeh-temeh anak buahnya. Mereka paham secara intuitif bahwa pemimpin autokrat tidaklah efektif dan usang.

Mengapa penting untuk belajar menjadi manajer alami?

  1. Supaya manajer dapat menempatkan orang yang tepat di posisi yang tepat. Menempatkan orang pada posisi di mana dia dapat memberikan kontribusi terbesar. Penempatan orang juga menyangkut penempatan karyawan pada unit yang dapat meminimalisasi perselisihan.
  1. Supaya manajer dapat mempekerjakan atau memecat orang tanpa melibatkan emosi pribadi. Untuk mendeteksi karakteristik pelamar dengan merancang skenario dan menanyakan kepada pelamar apa yang akan dia lakukan ketika menghadapi situasi tersebut.
  1. Supaya manajer dapat mengatur prioritas dengan baik. Mendorong manajer untuk melakukan pekerjaan secara efektif dan konsisten. Menurut Drucker, manajer seyogyanya hanya memiliki dua prioritas kunci karena ia tahu tak seorang pun bisa mengatasi lebih dari itu.

Bagaimana cara menjadi manajer alami?

  1. Secara konsisten bertanya pada diri sendiri dan kolega mereka, “Apa yang perlu saya lakukan untuk memaksimalkan kontribusi saya kepada perusahaan?”

    Eksekutif efektif bertanya kepada orang-orang di dalam organisasinya, kepada atasan dan anak buah mereka, tapi terutama kepada kolega-kolega mereka yang ada di bagian lain: “Kontribusi apa yang Anda butuhkan dari saya untuk meningkatkan kontribusi Anda pada organisasi?

  1. Menyadari bahwa pertanyaan yang tepat lebih penting daripada menemukan jawaban yang tepat.

    Tidak ada hal yang lebih sia-sia – bahkan berbahaya – ketimbang jawaban yang benar atas pertanyaan yang salah. Bahkan menemukan jawaban yang benar saja tidak cukup.

  1. Menyadari bahwa ketika lautan semakin berombak, mereka tidak menggelar pertemuan lain.

    Mengambil alih kendali dengan menetapkan tujuan yang benar dan memastikan bahwa semua tangan ikut mendayung ke arah yang benar. Penting untuk manajer menciptakan sinergi.

  1. Mengetahui bahwa moral dan budaya organisasi adalah tanggung jawab.

    Memimpin dengan memberikan suri teladan dan memastikan bahwa mereka melakukan ‘apa yang benar’ dan tidak peduli dengan ‘siapa yang benar’. Bentuk-bentuk kepercayaan seperti ini harus diubah menjadi nilai-nilai dan dikomunikasikan secara jelas di seluruh jajaran perusahaan.

Referensi:
Krames, J. A. (2008). Inside Drucker’s Brain. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.