FAKTA TENTANG PELATIHAN MANAJER

STRATEGY FORMULATION: THE STRATEGIC THINKING APPROACH
November 27, 2017
EMPLOYEE MANAGEMENT: HOW ‘STRESS’ WORKS
Desember 11, 2017

Posisi seorang pemimpin akan selalu menjadi faktor penting di tempat kerja. Menurut Towers Watson, 55% karyawan terinspirasi oleh pemimpinnya. Jika seorang pemimpin tidak mampu memberikan motivasi dan arahan yang baik, karyawan akan merasa kurang menerima dukungan yang adekuat sehingga hal ini dapat meningkatkan turn over. Sayangnya, menurut Gallup, hanya 18% manajer mampu mengelola orang lain dengan efektif.

Dalam mengembangkan wawasan dan kompetensi kepemimpinannya, manajer sebenarnya juga membutuhkan training lain di luar teknis pekerjaannya, seperti:

  1. Human Resource
    Forbes (2016) melaporkan bahwa 98% manajer memerlukan pelatihan tambahan. Dalam kesehariannya, manajer akan menghadapi permasalahan terkait konflik karyawan, performance reviews, rekrutmen karyawan, dan sebagainya. Di dalam proses tersebut, manajer membutuhkan pengetahuan tambahan seperti kebijakan dan prosedur HRD, hukum ketenagakerjaan, rekrutmen yang efektif, dan performance management.
  1. Coaching
    Seiring meningkatnya kesadaran perusahaan untuk mengevaluasi keakuratan sistem performance management, proses coaching semakin menjadi hal yang penting. Perhatian perusahaan akan tertuju kepada para manajer yang bertugas memotivasi dan mengelola kinerja karyawannya. Menurut Payne (2017), 93% manajer masih membutuhkan pelatihan dalam melakukan coaching ke karyawan dan menjalani transisi dari peran sekedar “bos” menjadi seorang “coach”.
  1. Compensation & benefit
    Pembicaraan terkait gaji bisa jadi menakutkan untuk sebagian manajer, terutama manajer yang suka menghindari konflik. Menurut PayScale’s Compensation Best Practice Reports (2017), hanya 19% karyawan yang yakin dengan kemampuan manajer menghadapi pembicaraan yang alot terkait gaji dan hanya 38% manajer yang yakin mampu mengomunikasikan compensation & benefit kepada karyawan dengan baik.

Sama halnya seperti karyawan lain, seorang manajer juga membutuhkan feedback setelah training. Penilaian 360 derajat, feedback app, pertemuan tatap muka atau one on ones dengan bawahan, ataupun sistem umpan balik yang lain sebenarnya dapat menjadi competency booster.

Ada kalanya manajer tidak mengetahui apa, mengapa, dan bagaimana cara melakukan beberapa hal, bahkan sebagian kurang peduli terhadap segala hal yang penting untuk perkembangan karyawannya. Pelatihan untuk para manajer dapat membantu mengatasi kebingungan sehingga mereka dapat berfungsi sebagai atasan dengan lebih optimal. Pada akhirnya manajer yang efektif dapat membuat komunikasi dan kinerja tim menjadi lebih baik sehingga mendorong meningkatkan employee engagement.