TAK HANYA BUTUH MANAJER, KARYAWAN MILENIAL JUGA BUTUH MENTOR

INILAH 8 PERTANYAAN UNTUK MEMBANTU ANDA MENGEKSEKUSI STRATEGI YANG EFEKTIF
May 11, 2020
MEMBANGUN KREDIBILITAS SEBAGAI SEORANG MANAJER BARU
May 11, 2020

Karyawan yang termasuk dalam generasi milenial membutuhkan sosok pemimpin sekaligus mentor yang dapat membuat mereka semakin percaya diri serta memberikan semangat untuk bertahan ketika menghadapi berbagai pekerjaan yang memiliki resiko besar. Mereka tidak ingin terikat dengan sistem manajemen kuno yang hanya menentukan aturan dan batasan. Bagi karyawan milenial, mereka membutuhkan sosok manajer yang dapat menciptakan hubungan kepercayaan dan pengertian terhadap karyawannya. Karyawan harus merasa bebas untuk mendekati manajer dan berbicara secara terbuka tanpa harus merasa terintimidasi namun tetap menghormati batasan antara manajer dan karyawan.

  1. Membangun hubungan yang saling mengerti dan percaya

    Karyawan harus merasa bahwa manajer tidak akan mengarahkan mereka pada hal yang salah. Ketika karyawan merasa bahwa manajer mengetahui dan menghargai potensi mereka, maka karyawan pun akan berusaha lebih keras untuk unggul dalam segala pekerjaan yang mereka lakukan. Dinamika pendampingan ini berguna untuk membangun kepercayaan dan kesetiaan yang lebih besar dibandingkan kenaikan atau bonus, karena karyawan dan manajer dapat memupuk hubungan timbal balik, bukan sekedar transaksi.

  1. Memberi pengertian untuk belajar dari kesalahan

    Pemimpin harus mengajarkan karyawan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka, serta memiliki akuntabilitas untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Karyawan takkan berkembang saat kita hanya menyalahkan atau memberikan ceramah kepada mereka. Sebaliknya, karyawan perlu diberi pengertian bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Dalam hal ini, manajer dapat memberikan dukungan secara mental bahwa karyawan mampu memperbaiki kesalahan untuk dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

  1. Memberi ruang untuk berkembang

    Jangan sampai seorang pemimpin memberikan rasa takut kepada karyawan milenial saat mereka mengalami kegagalan dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Hal tersebut justru akan membuat kinerja karyawan semakin memburuk. Tidak hanya memberi pengertian mengenai kesalahan mereka, seorang pemimpin seharusnya dapat mendorong karyawan untuk memperbaiki kesalahan mereka serta keluar dari zona nyaman mereka untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi. Dengan begitu, ketika karyawan melakukan kesalahan, ia akan tahu cara menghadapinya secara bertanggung jawab dan penuh percaya diri.

Pada akhirnya, seorang pemimpin harus memahami bahwa saat bekerja dengan generasi milenial, mereka harus lebih melihat proses untuk mencapai hasil, bukan hanya sekedar melihat hasil kerja karyawan milenial. Selain itu pemimpin juga perlu memberi ruang kepada karyawan untuk belajar dan berkembang sehingga produktivitas tim secara keseluruhan dapat berjalan dengan baik.