Sistem Manajemen Holacracy yang Revolusioner

Pentingnya Penerapan Soft Skills bagi Perusahaan
May 12, 2020
Penggunaan Virtual dan Augmented Reality dalam SDM Perusahaan
May 12, 2020

Holacracy adalah sebuah sistem manajemen organisasi baru yang diciptakan oleh Brian J. Robertson untuk menjalankan sebuah organisasi atau perusahaan. Dalam holacracy, operasi organisasi tidak bersifat dari atas ke bawah, tetapi kekuasaan dibagikan ke seluruh bagian di organisasi. Individu dan tim memiliki kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri, tetapi masih tetap selaras dengan tujuan organisasi. Holacracy ingin menciptakan organisasi yang berstruktur seperti sebuah kota, bukan seperti birokrasi perusahaan. Dalam sebuah kota, orang-orang berbagi ruang dan sumber daya secara lokal. Mereka memiliki hukum dan badan pemerintahan yang menerapkannya tetapi tidak memiliki atasan yang memerintahnya.

Berikut ini beberapa fitur utama dari holacracy:

  • Berfokus pada tujuan

    Organisasi yang menerapkan holacracy berfokus pada tujuan di setiap tingkatannya, baik itu tingkat organisasi, tim, maupun individu. Semua anggota mendedikasikan semua tenaganya untuk mencapai misi organisasi sehingga membuka potensi penuh organisasi.

  • Responsif

    Setiap individu bertindak sebagai “sensor” bagi organisasi dan bisa langsung memproses peluang dan tantangan yang ditemuinya menjadi sebuah perubahan dalam organisasi. Keputusan yang lebih kecil dan bertahap menggantikan reorganisasi skala besar sehingga organisasi dapat merespon perubahan lingkungan dengan cepat dan mengembangkan business agility.

  • “Aturan main” yang jelas

    Holacracy menggantikan manajemen hierarki dengan aturan yang eksplisit dan ringan yang menetapkan ekspektasi yang jelas dan membuat wewenang pembuatan keputusan yang transparan untuk seluruh organisasi.

  • Peran dan tanggung jawab yang transparan

    Peran dan tanggung jawab menjadi dinamis, transparan, dan berkembang seiring perubahan organisasi. Setiap tim memonitor dan menyesuaikan struktur mereka sendiri yang real-time dan sejalan dengan tujuan organisasi.

Holacracy menggunakan manusia sebagai sensor dalam mengidentifikasi dan merasakan permasalahan atau tantangan dalam lingkungan organisasi. Holacracy menyebut permasalahan tersebut sebagai tension, celah antara kenyataan saat ini dan potensi yang disadari. Setiap tension yang dirasakan adalah pertanda yang menunjukkan bagaimana sebuah organisasi dapat berkembang untuk mencapai tujuannya. Holacracy diharapkan bisa bekerja seperti tubuh manusia yang tidak memiliki sistem komando dari atas ke bawah melainkan sistem yang terdistribusi. Setiap sel, organ, dan sistem organ memiliki kapasitas untuk menerima pesan, memprosesnya, dan menghasilkan keputusan. Mereka juga memiliki fungsi dan otonomi untuk mengatur bagaimana bisa melaksanakan fungsi tersebut.

Beberapa elemen yang ada dalam holacracy adalah:

  • Konstitusi yang menentukan ‘aturan main’ holacracy dan mendistribusikan wewenang
  • Cara baru untuk menyusun struktur organisasi dan menentukan posisi dan wewenang yang dimiliki individu
  • Proses pembuatan keputusan yang unik untuk memperbarui posisi dan wewenang individu dalam organisasi
  • Proses meeting untuk membuat tim tetap sinkron dan menyelesaikan pekerjaan bersama.

Sistem manajemen ini memiliki konstitusi yang merupakan pedoman aturan untuk organisasi yang menerapkan holacracy. Konstitusi ini mengatur tentang role atau peran dalam perusahaan dan tata cara membuat role serta mengisinya, apa saja tanggung jawab dan wewenang sebuah role, bagaimana bentuk struktur organisasi dan penentuan sebuah circle atau lingkaran departemen, bagaimana proses governance—proses dimana kita memberikan kekuasaan atau wewenang dalam organisasi, proses pelaksanaan meeting yang terdiri dari governance meeting, tactical meeting, dan strategy meeting, serta proses operasional organisasi.

Referensi:

Robertson, Brian J. 2015. Holacracy: The Revolutionary Management System that Abolishes Hierarchy. Great Britain: Portofolio Penguin 2015
https://www.holacracy.org/what-is-holacracy