LEADERSHIP: THE MORE HAPPY, THE MORE TRUST

5 WAYS TO IMPROVE YOUR EMPLOYEES’ EMOTIONAL INTELLIGENCE
October 23, 2018
MANAGING EMPLOYEES – DISKRIMINASI GENDER DI TEMPAT KERJA
October 23, 2018

Dalam sebuah forum diskusi Ted X, Simon Sinek, pengarang buku bestsellerStart With Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action”, memberikan sebuah peumpamaan dan gambaran mengenai gaya kepemimpinan manajemen yang cenderung tragis, namun sangat relevan dengan keadaan sekarang ini. Sinek menjelaskan, bagaimana dalam gaya kepemimpinan militer, orang yang rela berkorban agar orang lain mendapat untung akan diberi penghargaan. Sementara dalam bisnis, sering kali pemimpin ‘memberikan penghargaan’ pada orang-orang yang mengorbankan orang lain agar dirinya bisa mendapat untung. Konsep ini kemudian mendorong orang-orang bisnis untuk berkompetisi satu sama lain, tidak memercayai satu sama lain, dan cenderung saling menjatuhkan.

Dalam konteks manajemen, karyawan yang kurang memiliki kepercayaan dengan sesamanya akan berusaha mempertahankan diri, bagaimanapun caranya. Secara alamiah, manusia membutuhkan rasa aman dan akan berusaha melakukan segala hal untuk mencapainya. Bahkan dari zaman primitif, manusia berusaha mempertahankan diri dari ancaman eksternal dengan membuat peralatan tarung.

Pemikiran mengenai upaya pertahanan diri kemudian mengalami pengembangan. Untuk mempermudah dan memperkuat upaya pertahanan diri, manusia membentuk sebuah kelompok masyarakat yang terdiri dari beberapa orang. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang saling memercayai sesamanya untuk mempertahankan dirinya saat ia sedang dalam bahaya. Konsep ini mengangkat sebuah kesimpulan bahwa dengan gotong royong, lebih banyak keuntungan yang bisa didapat. Permasalahannya adalah, saat seseorang dalam kelompok—secara sengaja ataupun tidak sengaja—berbuat sesuatu yang merusak kepercayaan dalam kelompok. Akhirnya, manusia kembali bergantung pada dirinya sendiri untuk mempertahankan keberadaannya. Sering kali dalam manajemen, lingkungan sesama karyawan tidak memberikan support yang dibutuhkan seorang karyawan sehingga karyawan merasa ‘harus berupaya mempertahankan diri’ dari faktor-faktor yang dapat membahayakan keberadaannya. Dalam beberapa kasus yang sering terjadi, ancaman itu malah datang dari kelompok karyawan sendiri sehingga karyawan tidak memercayai rekan kerjanya.

The Science of Trust

Secara ilmiah, ada sebuah hormon yang diproduksi otak untuk mendorong seseorang untuk memercayai orang lain. Hormon ini disebut oxytocin, diproduksi dalam hypothalamus, dan disimpan dalam bagian otak depan atas (posterior pituitary gland). Fungsi hormon oxytocin yang terkenal adalah untuk membantu proses persalinan, namun ternyata hormon ini juga berfungsi mendorong seseorang untuk dapat memercayai orang lain. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Michael Kosfeld dari UC Berkeley, orang-orang yang diinjeksi dengan ekstra oxytocin menunjukkan perilaku “percaya” yang lebih tinggi dibanding normalnya, meskipun dalam konsekuensi dan resiko yang sama dengan orang yang tidak menerima ekstra oxytocin. Kosfeld menyimpulkan bahwa oxytocin mendorong orang untuk lebih “rela” percaya pada orang lain. Oxytocin tidak membuat orang menjadi semakin optimis terhadap peluang yang ada di hadapannya, namun memberikan rasa “aman” saat mereka memutuskan untuk memercayai orang lain. Saat oxytocin bereaksi, oxytocin membantu amygdala, bagian otak yang berfungsi mendeteksi bahaya agar lebih tenang. Dengan begitu, seorang individu akan merasa lebih mampu untuk memercayai orang lain. Karena itu juga, hormon oxytocin juga dikenal dengan sebutan “the love homone” karena hormon oxytocin cenderung naik saat adanya sebuah interaksi sosial yang positif dengan manusia lain.

Ada banyak cara untuk menaikkan kadar oxytocin dan banyak di antaranya merupakan hal-hal sederhana yang sering dilupakan. Padahal hal-hal sepele ini ternyata banyak digunakan para marketer untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan pada mereka. Contohnya seperti senyuman dan sentuhan. Jabat tangan memang terlihat sepele, namun ternyata dapat meningkatkan kesan “dapat dipercaya” pada orang yang melakukannya. Dalam lingkungan kerja, dukungan, motivasi, dan pujian juga berpengaruh untuk meningkatkan kadar oxytocin. Peran pemimpin adalah untuk memastikan setiap anggota timnya mampu percaya dengan sesamanya. Kegiatan diluar kantor seperti team bulding dan team bonding juga efektif untuk meningkatkan rasa percaya pada karyawan. Dengan begitu, budaya kerja sama juga bisa dipupuk sedari dini sehingga atmosfir kantor dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap karyawan.