APA ITU BUDAYA ORGANISASI?

Budaya organisasi adalah pola perilaku kolektif individu-individu di dalam organisasi. Pola di sini berbicara mengenai sesuatu yang mudah dikenali, terprediksi, dan selaras. Pola apa saja yang dimaksud? Setidaknya ada 6 pola perilaku dalam konteks budaya. Berikut ini penjelasan dan contohnya:

  1. Working Habit – Kebiasaan kerja. Contohnya: bagaimana sebuah perusahaan bekerja dengan menjunjung kolektivitas dan kolaborasi, sementara yang lain percaya kemandirian lebih sesuai untuk mencapai efektivitas.

  1. Problem Solving – Pemecahan masalah. Contohnya: beberapa perusahaan mengedepankan gut feeling atau intuisi, lainnya mengedepankan etika, beberapa perusahaan mengandalkan ketersediaan data dan fakta, sedangkan yang lainnya berorientasi pada masa depan.

  1. Decision Making – Pengambilan keputusan. Beberapa perusahaan memerlukan tahapan yang kompleks untuk mengambil keputusan, beberapa lainnya sangat terpusat, sementara organisasi lain memberikan otoritas di berbagai level untuk mengambil keputusan secara mandiri.

  1. Communication Style – Gaya komunikasi. Perusahaan konservatif khususnya di Indonesia memegang standar sopan santun dalam berbicara, seperti menyebut jabatan atau menggunakan bahasa baku, sementara di perusahaan lain, karyawan bisa leluasa menyebut atasannya dengan nama saja tanpa rasa sungkan. Termasuk dalam berkoordinasi, banyak perbedaan gaya yang diterapkan di berbagai perusahaan berbeda.

  1. Reward & Punishment – Imbalan dan hukuman. Berbicara mengenai apa yang dihargai dan apa yang tidak bisa diterima, beberapa perusahaan melihat bahwa lembur adalah hal yang biasa dan cenderung menyenangkan, sedangkan di perusahaan lain malah menetapkan denda jika ada karyawan yang lembur.

 

  1. Acceptance & Rejection – Hal-hal yang diterima dan ditolak. Berbicara mengenai sikap yang dapat diterima maupun yang tidak, seperti bicara berdasarkan asumsi. Topik-topik percakapan yang dapat diterima dan tidak, bahkan skala “kecurangan” yang dapat ditoleransi atau tidak.

Budaya organisasi menjadi sebuah tema hangat yang sangat banyak dibahas saat ini. Munculnya beberapa perusahaan multi jutaan dolar yang masih berusia muda menjadi salah satu penggelitiknya. Mereka membuat kantor yang “berwarna” dengan fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh perusahaan konvensional pada umumnya. Membuat kantin gratis dan memperlengkapi kantor mereka dengan ruang bermain, menyediakan kapsul tidur dan ruang pertemuan lesehan, dan bahkan tanpa kantor!

Gagasan-gagasan ini bukan hal yang murah, dan bahkan tidak lumrah untuk kebanyakan perusahaan. “Bagaimana kapsul tidur dapat meningkatkan produktivitas?” Di sinilah kita harus melihat dari perspektif yang lebih komplit. Beberapa perusahaan buru-buru mengadopsi gaya tersebut, dengan investasi yang tidak sedikit mereka merancang kantor yang “kreatif” lalu mengendurkan peraturan-peraturan yang mereka miliki seperti membebaskan jam kerja, bahkan membudayakan power nap. Sayangnya pada beberapa perusahaan, keputusan ini tidak meningkatkan produktivitas, tidak merangsang inovasi, bahkan tidak berkorelasi dengan employee engagement.

Apa yang salah? Pada kenyataannya, budaya bukan hanya tentang kantor yang menarik dan indah yang disertai berbagai fasilitas yang mengikutinya. Budaya adalah hal yang tidak terlihat, kadang sulit dipahami, namun ia ada. Budaya yang mempengaruhi apakah orang dapat bekerja dengan optimal atau tidak, apakah mereka akan terinspirasi dari apa yang mereka kerjakan atau tidak, dan apakah mereka dapat memberikan kontribusi yang signifikan atau tidak. Jadi jelas, sekalipun lingkungan fisik merupakan faktor yang signifikan, tidak serta merta dapat kita gunakan untuk menilai sebuah budaya.

Kenyataannya, tidak ada organisasi yang tidak memiliki budaya. Semua organisasi apapun bentuknya, profit – non profit, formal – non formal, besar – kecil, pasti memiliki budaya. Yang menjadi krusial adalah apakah budaya yang dimiliki relevan terhadap tantangan bisnis? Apakah selaras dengan visi dan misi perusahaan? Apakah terdefinisi dengan baik? Dan yang paling penting, apakah budaya yang ada saat ini produktif dan membawa pertumbuhan yang signifikan baik dalam hal finansial dan skala perusahaan?

Google dan Apple diawali dari sebuah garasi sebelum membangun kantor yang “super”. Tetapi visi dan budaya mereka yang tidak tergoyahkan, sekalipun kantornya berubah seolah tempat rekreasi bagi beberapa orang. Jadi jelas bahwa setiap perusahaan memiliki budaya. Jadi, bagaimana Anda mendefinisikan budaya di perusahaan tempat Anda bekerja?

Recommended Posts