5 WAYS TO IMPROVE YOUR EMPLOYEES’ EMOTIONAL INTELLIGENCE

FORMULASI JOB DESCRIPTION YANG AKURAT
Desember 28, 2017
LEADERSHIP: THE MORE HAPPY, THE MORE TRUST
Januari 8, 2018

Konflik dalam lingkungan kerja sudah mutlak adanya dan tidak dapat dielakkan. Kenyataannya tidak ada yang namanya “the perfect office” (kantor yang sempurna) atau “the perfect colleagues” (kolega yang sempurna) seperti yang ada di film atau drama. Setiap kantor memiliki isu dan rahasianya sendiri, dan semua itu normal adanya. Bahkan saking umumnya konflik kantor, beberapa candaan seputar tipe kolega kantor pun viral beredar seperti; “we all have that one friend who…

Si karyawan kesayangan

Tipikal karyawan seperti ini banyak macamnya, namun biasanya dalam sebuah kantor seorang boss tidak mungkin bisa dekat dengan semua karyawannya dengan tingkat kedekatan yang sama rata sehingga muncullah beberapa orang yang tampaknya “kesayangan boss”. Dalam wujud yang berbeda, ada pula karyawan yang sangat disenangi semua orang. Karyawan seperti ini biasanya merupakan ‘MVP’ dari team, dan biasanya terlibat penting dalam team building. Karyawan ini adalah tipikal karyawan yang keberadaannya memainkan peran yang mayor dalam lingkungan kerja, sehingga saat karyawan tersebut absen, suasana kantor terasa sepi.

Si karyawan yang dibenci

Seperti dua kubu magnet, setiap kantor memiliki orang yang paling tidak disukai. Paling tidak, ada satu orang dalam kantor yang paling dijauhi atau dinomor duakan. Karyawan tersebut bisa saja karyawan yang paling sulit bergaul atau yang paling susah melebur dengan obrolan dan dinamika suasana di kantor. Ada juga tipikal karyawan yang pacu kerjanya agak lambat, hingga menghambat dan merugikan pekerjaan karayawan lain. Ada juga tipe karyawan yang sering lupa atau lalai mengerjakan tugas, hingga membuat tugas karyawan lain bertambah karena kesalahannya. Bagaimanapun juga, tipe karyawan seperti ini adalah tipe karyawan yang pasti ada di semua kantor, bahkan kantor perusahaan ternama sekalipun.

Bagaimanapun juga tipe karyawan yang bekerja pada Anda, sebagai manajemen Anda memiliki tanggung jawab untuk mengelola sumber daya manusia Anda. Bagaimanapun juga, perusahaan telah memutuskan untuk menerima karyawan tersebut oleh karena suatu alasan dan tugas Anda sebagai manajemen HR adalah untuk mengembangkan dan memperbaiki apa yang perlu diperbaiki. Untuk melakukannya, Anda perlu mengidentifikasi karyawan mana yang memiliki isu darurat dan memformulasikan metode pengembangan yang sesuai.

Emotional Intelligence

Emotional Intelligence adalah topik yang telah populer mulai tahun 1990an ketika para ahli menyadari bahwa IQ saja tidak menjamin kesuksesan seseorang. Karena itu muncullah sebuah faktor baru yaitu emotional intelligence, dimana seorang individu dinilai kemampuan menyeimbangkan emosi diri dan beradaptasi terhadap berbagai macam situasinya. Saat karyawan cenderung tidak disukai atau performanya kurang dalam lingkungan kerja, biasanya hal ini mengindikasikan adanya krisis dalam segi emotional intelligence. Menurut Daniel Goleman, ada 5 strategi yang sifatnya dapat menjadi terapi sederhana pada karyawan untuk meningkatkan EQ;

  1. Self-awareness
    Self-awareness berbicara mengenai bagaimana seseorang dapat menyadari, memahami, dan mengerti mood, emosi, dan dorongan pribadinya dan bagaimana efeknya terhadap orang lain. Seorang individu dengan self-awareness yang tinggi biasanya memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mampu mengatasi dan mengendalikan emosinya. Orang dengan self-awareness yang baik tidak akan menaruh harga dirinya berdasarkan apa kata orang, melainkan ia sendiri menghargai dan mencintai dirinya sendiri. Bila karyawan Anda lebih sering menghina dan menyalahkan diri, hal itu pertanda bahwa karyawan Anda kekurangan self-awareness. Sebagai manajer Anda dapat menjadi konselor masalahnya, sambil mengarahkan karyawan tersebut untuk dapat mengatasi emosinya. Anda juga harus menjadi penengah dan mediator yang baik apabila terjadi konflik yang berhubungan dengan karyawan dengan self-awareness yang kurang baik.
  1. Self-regulation
    Self-regulation adalah tingkat baru dari self-awareness dalam hubungan pengambilan keputusan dan cara bereaksi. Idealnya, orang dengan self-regulation yang tinggi mengerti bagaimana perbuatan dan emosi negatifnya dapat berpengaruh pada orang lain. Orang yang menyadari akan pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan akan lebih bijaksana sebelum mengambil tindakan atau keputusan. Mereka adalah orang-orang yang mampu berhadapan dengan kecemburuan, frustasi, keadaan ambigu dan situasi tidak menentu. Cara untuk meningkatkan self-regulation adalah dengan menerapkan terapi menunggu, dimana karyawan dilatih untuk menunggu selama beberapa waktu sebelum mengambil keputusan ketika situasinya sulit. Selain itu, konseling dan ngobrol dengan orang lain juga dapat membantu karyawan dengan self-regulation yang rendah. Dengan konseling, karyawan bisa mendapat perspektif baru dan melihat dari sisi yang mungkin tidak pernah ia pikirkan.
  1. Motivation
    Motivasi berbicara mengenai dorongan yang dimiliki oleh seorang individu untuk sebuah pekerjaan tertentu. Motivasi adalah energi yang membantu seseorang untuk tetap antusias dan mampu tekun dalam tugasnya. Karyawan dengan motivasi yang tinggi dapat dengan mudah beralih dari kegagalannya dan kembali fokus untuk berhasil di pekerjaan selanjutnya. Untuk meningkatkan motivasi, manajer dapat menanamkan nilai-nilai positif yang sifatnya menyenangkan. Selain itu, manajer dapat terus mengingatkan mereka mengenai alasan mereka bekerja pertama kali—tentang tujuan dan goal yang mereka ingin capai dalam pekerjaan. Lebih dari segalanya, manajer juga harus menjadi contoh yang baik dengan menyebarkan optimisme dalam lingkungan kerja. Apabila dari manajemen atas tidak mencerminkan optimisme yang baik, maka manajemen bawah pun tidak dapat mengadopsi visi dan semangat yang sama dengan pemimpinnya.
  1. Empathy
    Saat karyawan dapat berempati terhadap sekelilingnya, maka budaya gotong royong akan tercipta pada lingkungan kerja. Kemampuan empati karyawan berbicara tentang sejauh mana karyawan dapat memahami dan meresponi emosi orang lain. Ketika karyawan memiliki rasa empati yang tinggi, maka karyawan tersebut akan dapat memperlakukan orang lain dengan hormat, ramah, dan baik. Cara untuk meningkatkan empati adalah dengan terus mengasah kemampuan memahami perspektif orang lain. Terkadang orang gagal berempati karena ia terlalu berorientasi pada dirinya sendiri sehingga ia lupa memikirkan orang lain. Empati karyawan juga bisa dibangun dengan acara atau kegiatan team building yang sifatnya membangun hubungan intrapersonal.
  1. Social Skills
    Memiliki social skills yang baik, berarti Anda mampu memelihara hubungan dan memimpin sebuah kelompok. Dengan kemampuan social skills, Anda dapat mempersuasi orang lain untuk bergerak kearah yang Anda inginkan tanpa menyinggung atau mengurangi respect kepada orang tersebut. Cara untuk meningkatkan social skills adalah dengan berlatih berkomunikasi. Biasanya kesalahpahaman terjadi bukan karena perbedaan tujuan, namun karena cara penyampaian yang seringkali menyinggung perasaan orang lain. Sebagai manajer, Anda dapat memberikan giliran kepada karyawan untuk menjadi pemimpin dalam proyek kecil, sehingga setiap karyawan memiliki kesempatan yang sama rata untuk bertumbuh dan mengembangkan social skillsnya.